Syam Jr Weblog

– Jadikan lahan gambut, rawa dan hutan tropika basah sebagai modal dasar kita berjuang demi kemakmuran kita sendiri.

Terbakarnya lahan gambut dan hutan menghasilkan asap dan kitapun menderita. Gara gara asap, melekat pula stigma pada jidat kita sebagai bangsa terbelakang, bodoh dandibully dengan bermacam umpatan lainnya.
Tetapi ketika tak terbakar mereka minta, dunia minta agar kita menjaga “paru paru dunia” bagi kemaslahatan penduduk bumi akibat ozon berlobang – save the earth – kata mereka yang pintar itu.
Ditempat mereka yang cerah dan segar, sudah tidak ada lagi hutan yang mampu berperan sebagai paru paru dunia. Sementara Industri yang mendukung kesejahteraan kehidupan mereka terus bergelora. pabrik pabrik mereka berlanjut menghasilkan polutan yang sudah melampaui ambang batas. Ini dosa yang mereka timpakan kepada kita dengan dalih dan jargon penyelamatan bumi.
Hidup mereka sehat segar sejahtera ditopang oleh paru paru yang ada di hutan Kalimantan, Sumatera, Papua di Indonesia. Merekaterus saja berteriak dengan lantang selamatkan hutan – save the earth
Sekarang saya bertanya – adakah keadilan? Ketika mereka berteriak save!!!. Ketika mereka menginginkan kita melestarikan budaya – Melestarikan Budaya – Tahukah anda maknanya terhadap saudara kami Dayuhan yang hidup dengan kesejahteraan bersahaja apa adanya nun jauh dipedalaman.
Melestarikan budaya berarti membiarkan mereka hidup seperti dulunya mereka hidup semula jadi. Bercocok tanam – berburu, bertani berladang dengan mengandalkan sepuluh jari….nyaris tanpa teknologi…..hanya dengan sebilah korek….
Dan kita pun gumun dan latah bahkan bangga mengatakan sebagai bangsa yang tetap memelihara kearifan local. Anda tahu makna dari ungkapan ini – hidup sederhana..bersahaja..luguuu dan…ungud
Dulu dan sekarangpun ketika ini kutulis lagi..aku menangis.
Mari kita bangun seluruh kekuatan, membangun dengan modernisasi, membangun dengan kesadaran ilmu dan teknologi, membangun dengan percaya diri bahwa kita bukan bangsa yang tinggal dalam wilayah konservasi.
Mari kita bangkit melawan. Jadikan lahan gambut, rawa dan hutan tropika basah sebagai modal dasar kita berjuang demi kemakmuran kita sendiri.
Biarkan seluruh suku bangsa – bangsa bangsa di dunia memelihara paru paru masing masing…..

Rasanya tidak mungkin kita mengatasi masalah kebakaran hutan dengan konsep melestarikan hutan tetap menjadi hutan liar, karena mayoritas rakyat kita masih rendah tingkat kesejahteraanya sehingga akses ekonominya masih tradisional yaitu bersumber dari lahan dan hutan, masyakarat kita belum masuki sains dan teknologi modern sebagai sandaran kehidupannya.

Sementara berbagai lembaga dan badan justeru lebih perhatian kepada hewan dan komunitasnya ketimbang kepada kemanusian manusia masyarakat hutan. wilayah hutan.
Sementara berbagai lembaga dan badan justeru lebih perhatian kepada hewan dan komunitasnya ketimbang kepada kemanusian manusia masyarakat hutan. Sebagian rakyat dipedalaman yaitu masyarakat wilayah hutan sekarang sepertinya masih terpinggirkan.

Pada sisi lain berbagai proyek investasi perkebunan kelapa sawit yang positif mampu mendorong tingkat kesejahteraan justru kurang mendapat perhatian dan pembelaan sebagaimana mestinya.

Sebaliknya produk sawit bahkan mendapat tekanan internasional yang sampai kini masih memboikot seluruh derivate produk sawit, ini sangat tidak adil bagi rakyat seperti di Kalimantan pada umumnya. Anehnya sebagian lembaga local nasional justru ikutan nimbrung menekan produk sawit Indonesia.

Memang proyek investasi perkebunan Kelapa Sawit sebagiannya memasuki kawasan lahan gambut maupun lahan rawa monoton, sebenarnya masih menghadap masalah bahwa kedalam air tanah tidak boleh melebehi minus 0,80 meter dari permukaan tanah bergambut.
Drainase wilayah gambut nampaknya masih butuh inovasi teknologi.

Misalnya, manakala kedalam air tanah pada musim kemarau, menyusut ekstrem melebihi minus 0,80 meter dibawah permukaan tanah maka yang terjadi adalah oksidasi terhadap gambut, artinya selanjutnya kemungkinan menghadapii resiko perkebunan akan terbakar. Tentu tidak ada “ganti untung” dari pemerintah bahkan kemungkinannya para manager perkebunan menghadapi tuntutan pidana, duhhh nelongso tenan.

Daerah Kalimantan Selatan secara tofografis adalah dataran rendah atau sebagiannya bahkan tergolong rawa monoton. Wilayah seperti di Muara Tapus, Labuan Amas Utara, Babirik dan Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Demikian juga wilayah Daha Utara dan Daha Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Relatif wilayah rawa monoton ini kurang produktif, masyarakat bercocok tanam yang menghasilkan jagung dan semangka serta sayuran lainnya. Rakyat juga menanami lahan rawa monoton dengan varitas local “bani surung” yang secara umum ditanam pada musim kemarau panjang dan dipanen ketika lahan sudah berair mendanau.

Pada musim kemarau masyarakat “membersihkan” lahannya untuk bisa ditanami dan caranya antara lain dengan membakar rumput dan semak pada lahan rawa yang mengering tersebut.
Pada jaman penjajahan Hindia Belanda ada aplikasi drainase yang pilot proyeknya dikenal sebagai “Proyek Polder Alabio”.

Dulu di Alabio ada wilayah lahan yang di “block” dengan tanggul keliling dan kemudian airnya dipompa keluar untuk menghasilkan lahan yang terbebas dari genangan air rawa monoton. Sehingga kultivasi tidak harus menunggu musim kemarau untuk mendapat lahan subur di Alabio.

Dari pilot proyek ini mungkin kita bisa tarik pelajarahan bahwa sekarang mungkin kita membutuhkan inovasi teknologi aplikatif atas lahan rawa monoton ini.

Pada lahan rawa monoton ini misalnya tumbuh “Pohon Galam” yang digunakan masyarakat umumnya sebagai bahan pondasi konstruksi bangunan. Masalahnya sekarang tumbuhan hutan ini semakin berkurang wilayah tumbuhnya terdesak kepentingan lain.

Masalah lainnya bahwa pohon yang dibutuhkan berdiameter tampuk sebesar 15 cm dengan panjang sekitar enam sampai tujuh meter.

Untuk mencapai besaran dan panjang pokok pohon gelam butuhk waktu tumbuh sampai dengan limabelas tahun. Seandainya iya Cuma sendainya kita bisa lakukan dengan teknologi nano bisa membuat umr tumbah mencadi genjah sekitar 2 sampai 3 tahun tentu akan berdampak ekonomis yang laur biasa bagi rakyat kita.

Ini tantangan bagi kampus dan masyakarat akedemis untuk melakukan proyek riset guna menghasilkan teknologi aplikatif yang mampu menyelesai atau mengatasi masalah produktifitas lahan rawa monoton sekaligis meningkatkan kesejahteran petani dan menghindarkan serta mencegah kebakaran lahan.

Semoga kampus berlomba membuat proposal risetnya dan pemda berlomba membiayai proyek riset ini.

Partai berbasis massa muslim dengan aspirasi ideologis Islam di Indonesia pada Pemilu 17 April 2019 hanya mendapat dukungan politik dari rakyat 42.059.387. suara atau 30,05% dari total 139.971.260 suara sah Pemilu 17 April 2019 yaitu:
1. PKB = 13.570.097
2. PKS = 11.493.663
3. PAN = 9.572.623
4. PPP = 6.323.147
5. PBB = 1.099.848
Jadi jika dilihat dari prespektif ini maka secara politik ideologis Islam adalah minoritas di negeri ini. Bahkan jika minus PKB (9,69% ) dan PAN (6,84%) kerena sejatinya secara ideologis mereka adalah partai nasionalis terbuka . Total perolehan suara partai berbasis ideologis Islam tergerus menjadi hanya 13,52% saja. Ini fakta.
Mayoritas rakyat adalah Pendukung Sosialis Demokrat dan Nasionalis dan Liberal.
Sebaliknya sebanyak 97.991.882 atau 69,95% suara sah mendukung partai partai Sosialis Demokrat dan Nasionalis Liberal. Jumlah ini menjadi lebih besar manakala peroleh PKB dan PAN bergabung, peroleh suara kelompok socialis democrat dan nasionalis liberal mencapai 86,84% dari total suara sah Pemilu 17 April 2019.
Dari fakta ini jika NU punya dukungan massa muslim mencapai 80 juta warga dan Muhammadiyah dengan 30 juta warga namun tidak tercermin secara infrastruktur politik islam. Dengan kata lain meski mayoritas rakyat Indonesia penganut Agama Islam namun aspirasi politiknya cenderung memilih sosialis democrat atau nasionalis liberal bahkan komunis.
Seandainya ada pertanyaan di alam kubur : kok bisa jadi begini yai ?

Ketika dalam presfektif pasangan Jokowi – Amin menangkan pilpres 2019, maka representasi kelompok politik islam tradisional melalui figure KH.Ma’ruf Amin, eksistensinya merupakan keuntungan politik bagi partai PPP dan PKB.

Mungkin dampaknya adalah tuntutan jatah jabatan lebih dalam cabinet pemerintahan 2019 – 2024 bagi kedua partai berbasis masa NU itu. Dan jangan pernah lupa peranan NU…bagaimanapun tetaplah kekuatan politik Islam mayoritas di negeri ini.

Dalam kalkulasi politik kelompok nasionalis liberal, social democrat dan sosialis komunis pada dasarnya sanga percaya diri mampu memenangkan figure Jokowi dengan siapapun dipasangkan sebagai cawapres. Kelompok ini sangat pede akan menang tanpa dukungan suara muslim ( ingat pidato Ketum dalam rangka HUT PDIP ).

Akan tetapi membiarkan PPP dan PKB berdiri bebas berarti sama dengan mendorong meningkatnya militansi kelompok Islam untuk bersatu mendukung Prabowo. Dan satu hal penting adalah fatwa Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin tentang penistaan agama dalam kasus Ahok, ini factor yang menumbuhkan girah mempersatukan kekuatan politik Islam.

Dari kalkulasi inilah kemudian misi Romy dan Cak Imin merekrut KH. Ma’ruf Amin menjadi figure cawapres 01 sebagai jawaban bahwa soliditas kelompok Islam tidak akan dibiarkan begitu saja mendukung koaliasi Prabowo.

Selanjutnya kalkulasi politik kelompok nasionalis liberal, social demokrat dan sosialis komunis yang tergabung dalam koalisi pendukung Jkw-Amin hal ini mesti memperhitungkan manakala paslon Jkw-Amin berhasil memenangkan Pipres 2019. Bagaimana selanjutnya?

Artinya meskipun Jokowi berhasil menangkan Pilpres 2019 namun demikian tidak akan membiarkan kekuatan kelompok politik Islam memainkan dominasi manouvernya politiknya.
Tegasnya kelompok nasionalis liberal, social democrat dan sosialis komunis tidak akan membiarkan ( seandainya ) Jkw-Amin menang tetapi lebih dimaknai sebagai kemenangan kelompok muslim.

Romi bilang dia dijebak. Oleh siapa? Tetapi sekarang yang pasti Romi lewaaaattt…..
Selanjutnya…tinggal nasib kardus durian….

Membaca langkah politik YIM yang disebutnya sebagai professional dan gratis ketika bersedia menerima sebagai pengacara capres pasangan JKW-MA. Saya coba membuat catatan prosfektif terkait Pemilu 17 April 2019;

  1. Kubu Prabowo-Sandi akan menggugat hasil Pemilu 2019 terutama terkait perhitungan Pilpres.
  2. Tugas dan tanggung jawab YIM menghadang gugatan tersebut dan memenangkan JKW-MA.
  3. YIM bertanggungb jawab dan proyeksinya HTI menang perkara kasasi di Mahkamah Agung / membatalkan SK. Kemenkum HAM tentang pencabutan badan hukum HTI.
  4. Dengan demikian kegiatan ormas HTI menjadi legal dan seluruh kader HTI berjuang memenang Partai Bulan Bintang untuk lolos 4% Parliamentary Threshold.
  5. YIM PBB PBB dan punya kursi di DPR RI.
  6. PBB gabung koaliasi partai pendukung pemerintah.

YIM politisi professional sebagai pemimpin PBB meski harus gratiskan jasa keahliannya sebagai pengacara. ini catatan pengingat dan akan dibuktikan nanti pasca Pemilu 17 April 2019.

Tetapi sebelumnya indikasi lebih awal dapat dibaca adalah keputusan Kasasi Mahkamah Agung yang memenangkan HTI.

Konsep negara khilafah pada dasarnya terikat dengan kenabian kerasulan sehingga setelah Rasulullah Muhammad SAW tidak ada lagi khalifah. Kerasulan kenabian adalah “mandate” langsung dari Allah SWT.
Khalifah dianggkat langsung dari langit, khalifah tidak dihasilkan dari konsili atau hasil kesepakatan antar ummat manusia melalui pemilu demokratis.
Khalifah juga bukan jabatan warisan nenek moyang. Tidak semua keturunan Nabi Adam AS lantas menjadi nabi karena warisannya.

Ini materi tentative sebagai pembuka…….

Sumpah Pemuda 1928 membangkitkan semangat membangkitkan jiwa sebagai bangsa merdeka. Semangat yang loyo karena mentalitas tak berdaya sebagai pihak yang terjajah memang harus dibangkitkan agar mampu tampil bergerak dan berjuang untuk merdeka.
Itulah makna dan peran Sumpah Pemuda dalam proses menuntut keadilan dan kemerdekaan sebagai bangsa.
Bagaimana caranya membangkitkan menggelorakan jiwa bahwa kita adalah suatu bangsa, masing masing komponen bangsa ini mempunyai caranya sendiri sendiri. Para kiayi mencatatkan langkah sejarah menggelorakan jiwa yang loyo menjadi jiwa yang bangkit dan bangun melawan penindasan penjajah Belanda.
Melalui upaya dakwah dan pengajian mereka meyakinkan seluruh jama’ah, seluruh kaumnya bahwa Allah SWT pasti berpihak kepada kaum yang tertindas dalam menghadapi penindasan kaum penjajah Belanda. Dengan kalimat tauhid dan takbir para kyai meyakinkan bahwa Allah SWT pasti menolong perjuangan kaumnya menghadapi penindasan penjajah Belanda.
Tegas, untuk membangkitkan jiwa menggelorakan semangat perlawanan terhadap penindasan itulah pada kyai meneriakan kalimat tauhid dan takbir.

Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 216.293 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

Desember 2019
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031