Syam Jr Weblog

Archive for April 2009

Ketika membuka Rapimnas ke 2 Partai Demokrat, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengemukakan perasaanya yang was was untuk maju pada Pilepres 9 Juli 2009 jika permasalahan DPT tidak selesai. Kompas.com mengutip pernyataannya itu, disiarkan pada Munggu, 26 April pukul 11.24 waktu Indonesia barat;

“Banyak yang bilang saya atau capres lain tidak ikut pilpres jika DPT tidak selesai. Saya dukung 300 persen. Saya, yang juga insya Allah akan menjadi calon presiden Partai Demokrat, ada perasaan was-was,” Pernyataan SBY ini nampaknya cukup terencana dan bukan pernyatakan plesetan.

Kalimat saya dukung 300 persen yang diucapkan SBY, apakah merupakan ancaman balik untuk boikot Pilpres 2009,  dan lebih berbobot ketimbang ancaman kelompok Teuku Umar. Sebab, jangan lupa bahawa SBY adalah incumbent yang sedang memegang seluruh kendali pemerintahan.

SBY mengaku sangat sakit karena diduga melakukan kecurangan pada pemilu legislatif. “Sungguh sakit karena kami tidak pernah terpikir untuk melakukan hal yang menyimpang,” ujarnya di hadapan para peserta Rapimnas.

Suatu pernyataan yang jarang disampaikan oleh seorang kepala negara mengenai jalannya pemilihan umum suatu negera, dalam hal mana tudingan kecurangan ditanggapi sebagai diarahkan kepada presiden yang sedang menjabat hingga berakhirnya pada Oktober 2009. Tudingan mana menjadi lebih formal setelah SBY menyatakan hal ini secara terbuka. Nampaknya ada lubang baru dalam proses menuju Pilpres 2009.

Isue boikot terhadap pilpres memang sempat mengemuka oleh kelompok Teuku Umar yang dimotori oleh PDIP, Gerindra dan Hanura. Tetapi isu boikot pilpres 2009 kemudian melemah setelah Partai Golkar menyatakan resmi tidak bergabung dengan Partai Demokrat. Suatu peluang baru yang lebih longgar bagi kelompok Teuku Umar jika Partai Golkar dengan Ketua Umumnya Jusuf Kalla berada diluar “koalisi” Democrat.

Pergerakan para pemimpin partai yang semakin intens menyakapi perkebangan “pecah kongsi” SBY – JK dengan berbagai langkah pendekatan baru, menyiratkan bahwa Pilpres 2009 akan terlaksana sesuai jadwal. Pendekatan baru dengan melupakan kasus DPT yang sebelumnya menjadi topic permasalahan. Ancaman boikot pilpres 2009 kelompok Teuku Umar mulai mengering seperti embun tertimpa sinar matahari.

Namun ancaman baru merebak justeru dari pemerintah?. Apakah hal ini akan berkembang guna mengkondisikan perpanjangan masa pemerintahan SBY – JK manakala Pilpres 9 Juli 2009 batal digelar karena kasus DPT yang tak kunjung selesai. Sesuatu yang belum diatur Undang Undang dasar 1945.

Entah saking fanatiknya dengan Golkar, ketika Pakde Semut dikarunia anak dia memberinya nama Evy Golkarwaty. Ini peristiwa 40 tahun lalu. Dalam bulan ini senyum bahagia sering sumringah di wajah Pakde, maklum ada berita dari puterinya..ya.. Golkarwaty itu tadi bahwa tidak lama lagi cucunya akan dipinang oleh anak Pak lurah.

Tapi rencana bahagia sontak berubah. Pakde Semut marah marah. Gara garanya, pak lurah bikin pengumuman mengenai bibit, bebet,bobot, kriteria bakal calon mantunya. Nah ini kesempatan lajang kampung yang namanya Semprul ngomporin Pakde; isue sentralnya bahwa Pak lurah sudah keterlaluan.

Sudah santer kabar di kampung bahwa “koalisi” keluarga Semprul dengan keluarga Pakde diprediksi bakalan gagal total. Lagi pula anak pak lurah sudah hampir pasti bakalan lolos jadi caleg. Jadi tentulah akan lebih dipertimbangkan pinangannya diterima.

Agitasinya sangat tajam, maklum saingan sama anak pak lurah untuk menyunting cucu Pakde. “Pasal bibit, bebet, bobot memang sudah “code of conduct” untuk ngunduh mantu, tetapi jangan mentang mentang lurah lantas diumbar kepada khalayak, tidak etis dan terkesan sombong melecehkan.

Lagian kayak tender proyek aja”. Pakde…jangan mau digitukan…kayak orang nyapres aja…. Racun opini akhirnya ketelan juga. Pakde terdiam, jangankan senyum, mulutnya tersumbat seperti keselek enceng gondok ketika panen ikan lele di empang.

Selang seminggu memang Pakde “cooling down” dan dengan bijak dia lalu membentuk tim rembug. “Kalau memang jodo cucu saya ya saya tidak boleh ego..ini kan menyangkut masa depan dia” ujar pakde suatu ketika. Hampir sepuluh hari tim negosiasi subtantive ini bekerja tapi nggak kunjung putus, lantas Pakde nanya, gimana?

Nah disinilah permasalahannya, ternyata Pak Lurah minta agar diberi kebebasan memilih salah satu dari tiga cucunya. Pak lurah mau memilih mana diantara tiga cucu pakde yang memenuhi kreteria.

Pakde terbingung bingung dengan kemauan pak lurah, karena yang pernah pacaran itu adalah cucu sulung, lho kenapa tiba tiba mau naksir cucunya yang lain.

Masalahnya, cucu pakde yang cewek cuma satu satunya sedangkan dua yang lain “ternyata” cowok semua. “Ini kebangetan, ini mempermalukan keluarga kami”.

Tadi sore Pakde stress berat dan teriak teriak….Ngono ya ngono ne ojo ngono…tresno ya wis…tresno…eling….eling…ojo dumeh tho. Masak seeh…..edan tenan…cowok mau dinikah sama cowok… 🙂 🙂

Suatu kejadian kecil mungkin saja menjadi peristiwa diplomatic manakala menyangkut eksistensi hukum suatu negara “dilanggar”. Posting ini tidak bermaksud untuk menyulut terjadinya peristiwa diplomatic untuk tidak menyebutnya sebagai kasus diplomatik antara Indonesia dan Malaysia.

Posting ini bermaksud mengajak untuk memandang permasalahan semacam ini secara rational yang manarik studi hubungan internasional. Orang Indonesia yang mempunyai saudara di Malaysia hendaknya tidak mengandalkan sekadar keturunan atau asal usul tanpa mempertimbangkan hukum suatu negara, dalam hal ini Malaysia.

Hari ini ( 19/4 /2009 ) sebagaimana disiarkan Kompas.Com, saya kutipkan sebagiannya ceriteranya dibawah ini.

Seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Sakur (91), akhirnya bisa pulang kampung ke Nganjuk, Jawa Timur setelah 61 tahun tinggal secara ilegal di Malaysia. Sejak tahun 1948, ia hidup dari masjid ke masjid sebagai pemijat tradisional di Negeri Jiran itu.

“Alhamdulillah akhirnya saya bisa juga pulang kampung,” kata Sakur berlinang air mata di Kuala Lumpur International Airport, Minggu sore. Dia diantar beberapa warga Malaysia keturunan Jawa.

Sakur lahir di Nganjuk 10 Agustus 1917 dan tahun 1948 masuk ke Malaysia. Awalnya, ia tinggal di Johor Bahru kemudian mengembara ke berbagai negara bagian Malaysia, hingga ke Pulau Penang, Kota Tinggi dengan jalan kaki berhari-hari.

Saya khawatir Pemerintah Malaysia akan mengklaim bahwa; Sakur adalah warga negaranya. Sebab,  Sakur sudah berada di tanah semenajung sebelum kemerdekaan Malaysia dan kemungkinan yang bersangkutan juga tidak memegang Paspor Indonesia dan atau bahkan KTP Nganjuk – Jawa Timur sekalipun.

Kedudukan Sakur menjadi stateless ( tanpa status kewarga negara-an ) sampai dengan hari kemerdekaan Malaysia pada 1957 dan tetap menjadi stateless manakala dia karena kondisisinya, tidak menyatakan dengan tegas bahwa dia adalah warga negara Malaysia atau Warga Negara Indonesia.

Saya tidak mengetahui apakah Malaysia mempunyai aturan hukum untuk kasus ini. Tetapi saya yakin bahwa setiap negara mempunyainya. Administrasi negara tidak memberikan peluang kepada sesorang untuk menjadi stateless dan pasti mempunyai dasar hukum untuk mengaturnya.

Saya khawatir “pemberian paspor” oleh Kedubes Indonesia di KL dalam proses pemulangan Sakur ke Nganjuk bisa berkembang menjadi peristiwa diplomatic.

Seperti menunggu episod sinetron, akhirnya suatu pertemuan dirumah kediaman Taufik Kiemas di Jalan Teuku Umar, kawasan Menteng, Jakarta, akhirnya tayang juga. Sejumlah tokoh bertemu membahas Pemilu Legislatif 2009 yang dinilai amburadul dan telah terjadi kecurangan secara sistematis.

Pertemuan berlangsung hari Selasa 14 April lalu, antara Megawati Ketua Umum PDIP, Prabowo (Gerindra) dan Wiranto (Hanura). Secara umum, hasil pertemuan itu adalah pernyataan politik tentang terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan pileg 2009 dan akan menempuh jalur hukum.

Kehadiran mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Ketua Majelis Syura PBB Yusril Ihza Mahendra, Ketua Bappilu PAN Totok Daryanto, Ketua DPP PPP Rusdi Hanafi, Ketua DPP PKB Misbah Hidayat, Ketua Umum PBR Bursah Zarnubi, Sekjen PKNU Idham Cholid,Ketua Umum PPRN Amelia Yani, serta Ketua DPP PDS Ferry B Siregar, tentu dimaksudkan menambah bobot politik pertemuan itu.

”Indonesia adalah negara hukum, kami tidak akan memvonis sesuatu yang belum diputuskan di ranah hukum, jadi kami akan lalui dulu jalur hukum.”, demikian Ketua Umum DPP. Partai Hanura Wiranto yang membacakan hasil pertemuan itu mewakili kelompoknya.

Kalau mau menempuh jalur hukum, memang begitulah yang diharapkan rakyat banyak dalam konteks kehidupan bernegara. Tapi namanya juga pertemuan politik, hasilnya tentu juga diharapkan mempunyai apeal politik, sebelum langkah hukum benar benar diambil sesuai dengan tata acaranya.

Apeal tersebut dapat kita rasakan melalui pernyataan penilaian terhadap penyelenggaraan pemilu. Menurut Wiranto, pemilu sangat jauh dari nilai-nilai jujur, bermartabat, adil dan demokratis. Daftar pemilih tetap yang dapat dimanipulasi secara sistemik telah mengakibatkan jutaan warga tidak bisa memberikan hak konstitusional untuk memilih wakilnya di parlemen. Begitu retorikanya.

Kalimat yang berbunyi – dapat dimanipulasi secara sistemik – adalah pernyataan yang ambigu, namun disambung dengan kalimat, ”tidak akan membiarkan kesemrawutan dan manipulasi yang berkembang dalam pelaksanaan pemilu”. Lalu terdapat pula pernyataan yang menilai Komisi Pemilihan Umum (KPU), baik pusat maupun di daerah, telah bersikap tidak netral dalam melaksanakan pemilu. “Apabila proses ini terus dibiarkan, pemilihan presiden pada 8 Juli 2009 mendatang hanya akan menghasilkan kebohongan”.

Sebagaimana disiarkan teve secara luas, ”Kami datang ke sini bukan karena soal menang atau kalah, tapi ini soal moral”, kata Prabowo.” Sedangkan Rizal Ramli menyatakan niatnya menuntut tangung jawab presiden. ”Ini tak bisa hanya KPU yang disalahkan, tetapi juga jadi tanggung jawab Presiden. Dua pemilu lalu, pada waktu Pak Habibie dan Mbak Mega, berlangsung jujur, adil, dan fair. Kali ini justru pemilu legislatif yang amburadul.” katanya.

Seluruh unek-unek tersebut diatas belum menjadi formula gugatan hukum, manakala memang mau menempuh jalur hukum sebagaimana diucapkan. Tetapi, seluruh pernyataan masih dalam artikulasi politik yang mungkin saja bertujuan membentuk pendapat umum, terkait dengan persaingan memperoleh simpati rakyat dalam rangka Pilpres 8 Juli 2009.

Kalau sekiranya berhasil menaikan rating jagonya yang akan diusung sebagai pesaing, maka langkah hukum urung dilakukan. Karena…cicak pun tahu kalau langkah hukum tetap saja menghasil “puas” atau “tidak puas” atas putusan pengadilan. Ini fenomena era reformasi sekarang yang mengandung resiko tinggi terhadap kedamaian kehidupan berbangsa. Konflik horizontal mungkin tak terhindarkan. Semoga hal ini menjadi pertimbangan para pemimpin kita.

Jadi hampir dapat ditebak bahwa yang dibutuhkan adalah solusi secara politik juga dan itulah yang diharapkan rakyat banyak. Karena semuanya sebenarnya memahami, pemilu yang amburadul kali ini bisa diakibatkan oleh penyelenggaraan yang tidak sesuai atau melanggar ketentuan Undang Undang. Atau lebih disebabkan oleh Undang Undang Pemilu yang memang kacau.

Sekadar info, bahwa dimasa reformasi ini telah dilakukan tiga kali pemilu dengan tiga Undang Undang yang berbeda……. undang undang sekali pakai…he he..kayak kondom aja. 🙂

Pak JK sudah nelpon Pak SBY, mengucapkan selamat atas hasil quick count. Ini tauladan kesantunan dalam berpolitik, teladan seorang pemimpin kepada rakyatnya untuk menjaga silaturahim. Memelihara stabilitas kehidupan berbangsa. Salut dan empati kepada Pak JK, beliau memang berjiwa besar.

Meskipun apa yang beliau lakukan masih menungu hasil final penghitungan suara secara manual sebagaimana yang dianut system pemilu negeri ini sesuai ketentuan Undang Undang. Selanjutnya mungkin bisa diharapkan, bahwa dengan pengalaman kali ini akan muncul gagasan dan langkah baru untuk mendapatkan angin segar bagi Partai Golkar.

Sekarang adalah momentum yang tepat memunculkan gagasan dan langkah penting untuk masa depan organisasi besar ini. Pemikiran ini memang tidak mudah diterima semua fihak di Partai Golkar karena membutuhkan pertimbangan pemikiran yang tenang dan jernih. Sekarang mungkin masih semangat tinggi karena memang penghitungan suara belum final. Dinamikanya akan berbeda manakala penghitungan sudah rampung, apabila sudah tidak adalagi angka yang diutak atik.

Konsekuensi logis seorang ketua umum adalah bersikap legowo, mundur karena gagal mempertahankan perolehan kursi partainya di parlemen. Mundur bukanlah suatu keputusan emosional, bahkan menjadi rational manakala dipertimbangkan sebagai upaya memelihara stabilitas politik nasional, kebutuhan kehidupan berbangsa dewasa ini.

Sebuah langkah yang memberikan inspirasi dan keteladanan dalam bersikap, teladan kepada seluruh elit politik negeri ini. Sementara pada sisi internal, secara esensial Ketua Umum Partai Golkar bermakna memberikan peluang bagi kader Partai Golkar lainnya untuk bertarung pada Pilpres 2009.

Meskipun perhitungan sementara quick count menampilkan angka antara 14% sampai 15% perolehan suara nasional, bukan berarti kartu mati. Kenaikan perolehan sekitar 1%  masih memberikan harapan bagi Partai Golkar untuk maju dengan pasangan capres/cawapres sendiri bertarung melawan SBY dari Partai Demokrat.

System suara terbanyak caleg memberi peluang perolehan kursi Partai Golkar di DPR mungkin saja mencapai 142 kursi atau lebih 25% dari 560 total kursi di parlemen. Perolehan mayoritas suara Partai Golkar di Luar Jawa mendukung kemungkinan tersebut. Sebuah “keberuntungan” tersendiri dibanding PDIP.

Semoga Pak JK mempertimbangan untuk mundur dengan jiwa besar kepemimpinannya. Langkah bijak beliau akan menuai panen empati yang luar biasa bagi seluruh rakyat Indonesia. Para pendukungnya akan bernyanyi di lapangan terbuka…aku masih di Golkar untuk setia…

Percaya atau tidak, sebentar lagi data hasil lembaga survey akan teruji seberapa “error” nya. Terlebih lagi mungkin angka tersebut mengindikasikan apakah ini data pesanan atau tidak.
Bloger kondang Prayitno Ramelan dalam postingnya; “Kata Empat Lembaga Survei, Tgl 9, Demokrat Jawaranya.”

Menampilkan data dari lembaga survey Puskapol UI, Lembaga Survey Nasional (LSN), Lembaga Riset Indonesia (LRI) dan Sugang Saryadi Syndicate (SSS) dengan ranking 1 sampai semblan partai dianatara 44 partai peserta Pileg, 9 April 2009. Data tidak termasuk partai lokal di Nangroe Aceh Darussalam.
Data tersebut adalah sbb:

Puskapol UI memberikan data Partai Demokrat (21.38%), PDIP (17,77%), Golkar 16,56%) Gerindra (4,62%), PKS (4,43%), PKB (4,24%), PPP (4 %), PAN (3,61%), Hanura (2,99%).

LSN mengeluarkan data Demokrat (19,30%), PDIP (16,20%), Gerindra (15,60%), Golkar (14,00%), PKS (6,60 %), PAN (4,30%), PPP(4,10%), PKB (4,00%), Hanura (2,10%).

LRI mengeluarkan data Demokrat (20,66%), Golkar (18,05%), PDIP (16,31%), PKS (8,54%), Gerindra (5,76%), PAN (3,15%), PPP (2,188%), PKB (1,36%), Hanura (1,02%).

SSS mengeluarkan Demokrat (20,20 %), PDIP (13,50%), Golkar (12,20%), Gerindra (10,40%), PKS (9,70%), PAN (5,80%), PPP (4,20%), Hanura (3,60%), PKB (3,00%).
Jika data hasil survey empat lembaga itu di “adjust” rata rata, maka hasilnya menjadi peringkat 1 sampai 9 adalah sbb:

1 Partai Demokrat 20.39%
2 PDIP 15.95%
3 Golkar 15.23%
4 Gerindra 9.10%
5 PKS 7.32%
6 PAN 4.22%
7 PPP 3.62%
8 PKB 3.15%
9 Hanura 2.43%
Jumlah 81.41%

Jumlah keseluruan 81,41%. Sisanya18.59% adalah peroleh 35 partai, untuk mencukupkan 100% suara sah yang menjadi dasar perolehan masing masing. Kelompok suara 35 partai ini untuk memudahkannya, sebut saja sebagai Partai Terong, menjadi pemenang kedua.
Tinggal atur Blog A yaitu Koalisi Pelangi serie 2 yang terdiri dari Partai Terong (18.59%), Partai Golkar (15.23%), Gerindra (9.10%), PPP (3.15%) dengan total kekuatan 46,54%.
Blog B dengan koalisi Partai Demokrat (20.39%), PKS (7.32%), PAN (4.22%), PKB (3.15%) total kekuatan 35.08%.
Blog C terdiri dari PDIP (15.95%) dan Hanura (2.43%) atau total keduanya 18.38%.

He he he …enak aja. 🙂

Apa persaman dari ber-politik dengan ber-poligami? Mendadak pertanyaan seperti ini menggelayut dibenak saya dan saya tidak siap menjawabnya. Saya kira andapun masih nyari nyari jawabannya. Tetapi saya coba juga menjawabnya sendiri dengan bertanya kepada teman teman.
Politik dan poligami persamaannya adalah cenderung tak terhindarkan untuk berbohong, Begini katanya menjelaskan, jika anda suatu saat ditanya oleh isteri pertama : “apakah sampeyan masih merasa berbahagia bersama saya?” Nah..andapun mulai mencari kata kata manis aduhai yang gombal..even harus berbohong.
Demikian pula politisi jika suatu ketika ditanya oleh rakyat konstituennya, apakah anda memang tulus ikhlas mendahulukan kepentingan masyarakat ketimbang kepentingan pribadi? Andapun akan mulai berfikir untuk menjawab secara diplomatis, memilih kata kata manis merayu dan berjanji..meski harus berbohong.
Pada pandangan umum tradisional, politik itu sama dengan kotor. Politik itu kotor, stigma yang melekat di jidat. Pandangan seperti ini merata dikalangan rakyat jelata. Tidak ada kawan abadi dalam politik dimaknai sebagai kecenderungan berkhianat, tidak setia kepada teman, menggunting dalam lipatan, menohok dari belakang, menghujat teman seiring. Seperti sekarang lagi siap tempur menjelang pemilu legislative..siap dengan suap…serangan fajar. Stigma semacam ini dari dulu sampai sekarang masih melekat dibenak mayoritas rakyat.
Mendengar argumentasi teman yang berapi api ini saya jadi bertanya, apakah argumentasinya memang benar benar atau cuma karena teman saya ini tidak lagi maju untuk Pileg 2009?
Dari berbagai hasil survey diungkapkan bahwa untuk Pileg 2009 pada 9 April nanti, partai politik berbasis agama akan mengalami kekalahan dibanding partai nasionalis. Sekarang sedang ramai diperdebatkan apalagi nanti setelah hasil Pileg 2009 partai berbasis agama benar benar merosot perolehannya dibanding Pileg 2004. Akan dicari argumentasi dan apa penyebabnya.
Untuk sementara mungkin ada argumentasi sederhana. Agama adalah pembimbing moral, pemimpinnya figure yang bersih tempat bertanya rakyat jelata. Peranannya dibutuhkan rakyat sebagai guru pembimbing moral bangsa.
Politik identik dengan hal kotor masih menjadi stigma. Jangan sampai jadi semakin melekat di jidat karena keseleo lidah ketika berorasi……
Pilihlah partai saya, ini benar benar bersih karena dicuci dua kali sehari…maaf… kepleset…. terbawa bawa kebiasaan poligami…-:)


Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 214.195 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

April 2009
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930