Syam Jr Weblog

Archive for Mei 3rd, 2009

Ada apresiasi gamang muncul ketika nama Budiono, Gubernur Bank Indonesia digadang gadang sebagai bakal cawapres SBY pada Pilpres 9 Juli 2009. Gamang tidak pada beliau yang profesional tetapi lebih kepada terminologi figur dari institusi Bank Indonesia. Jika memang betul sebagai bakal calon “jadi” untuk SBY, maka mungkin satu pemikiran berkembang bahwa SBY membutuhkan figure wakil yang mumpuni untuk melakukan “intervensi” terhadap bank sentral, manakala diperlukan. Apabila benar gagasannya seperti ini maka independensi Bank Indonesia dalam posisi terancam.

Independensi Bank Indonesia sebagai bank sentral harus tetap terjaga untuk tidak mengulangi kesalahan sejarah in the case of the  Javasche Bank. Sejarah mengajarkan agar jangan pernah ada niat untuk menempatkan Bank Indonesia sebagai institusi pemerintahan. Bank Indonesia harus tetap independent sebagai intitusi negara.

Pemerintahan Kerajaan Belanda melalui Konprensi Meja Bundar di Denhag (The Hague) pada 27 Desember 1949 berhasil memaksa politisi Indonesia untuk menerima De Javasche Bank sebagai bank sentral Republik Indonesia Serikat (RIS). Makna intinya, seluruh utang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, termasuk utang pembelian persenjataan kepada negara sekutu Belanda tidak dibebankan kepada Ratu Wilhelmina tetapi dibebankan kepada Indonesia sebagai prasyarat pengakuan kedaulatan. Charter of Transfer of  Sovereignty.

Konon pada tahun itu jumlah utang yang harus menjadi beban bangsa ini mencapai 4,3 milyar Gulden. Seluruh kerajaan di Nusantara yang mengikatkan diri pada RIS memberikan jaminan kolateralnya atas “utang” tersebut sebagai konsekuensi logis menyetujui isi dokumen hasil Konprensi Meja Bundar (KMB). Apakah jaminan kolateral itu memang likuid…wallahu’alam. Yang pasti isue ini kemudian berkembang menjadi rumor seputar “Harta Karun Bung Karno”.

Akankah dalam lima tahun kedepan republic ini mengejar harta karun tersebut. Fragmen diatas saya tampilkan untuk meraba atau katakanlah membaca pikiran mengenai gagasan menempatkan figure yang mumpuni seperti Budiono sebagai bakal cawapres. Langkah mengumpulkan raja raja nusantara di istana minus Sri Sultan Hamengkubuwono X beberapa bulan yang lalu, tidak dapat dinafikan begitu saja.

Terlepas dari semua “khayalan” tentang kasus the Javasche Bank dalam konteks KMB Denhag. Persetujuan terhadap hasil konprensi meja bundar pada dasarnya tidak dapat di ratifikasi karena bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945. Amanah konstitusi adalah membentuk Bank Indonesia dengan Undang Undang, tidak melalui dokumen KMB. Eksistensi de Javasche Bank sebagai bank sentral memang tidak pada UUD 1945 tetapi UUD RIS.

Bank Indonesia kemudian telah dibentuk sesuai dengan amanah konstitusi, amanah UUD 1945. Tetapi bagaimana dengan “utang” de Javasche Bank yang konon telah lunas pada 2003?  Misteri nampaknya masih tersimpan di Bank Indonesia termasuk masalah “jaminan kolateralnya” itu tadi. Apakah jaminan tersebut sudah dicairkan atau belum? Siapa yang terima, kapan? etc etc……Atau memang asli tidak ada alias nihil, artinya betul betul khayalan para pemburu “harta karun Bung Karno”?

Demikian pula dengan kedaulatan negara Republik Indonesia yang diakui oleh Kerajaan Belanda yaitu pada 27 Desember 1949 sementara seluruh rakyat Indonesia menyatakan kedaulatannya sejak 17 Agustus 1945. Diakui ataupun tidak diakui oleh masyarakat internasional,  bangsa Indonesia tetap memiliki kedaulatan negaranya. Pengakuan internasional berupa penyerahan kedaulatan melalui KMB hanya memberikan advantage kepada negara kreditor untuk menagih “warisan utang” kolonial Belanda kepada bangsa ini.

Independensi Bank Indonesia sebagai bank sentral harus tetap terjaga untuk tidak mengulangi kesalahan sejarah in the case of the Javasche Bank. Tolong jangan pernah ada niat untuk menempatkan Bank Indonesia sebagai institusi pemerintahan. Bank Indonesia harus tetap independent sebagai intitusi negara.

Entah idiom apa yang memberikan kekuatan luar biasa sehingga Rakernas PAN di Yogjakarta ( Sabtu, 2 Mei 2009 ) menghasilkan keputusan tanpa kehadiran Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir. Hasil Rakernas yang antara lain mengusulkan Hatta Rajasa sebagai Cawapres untuk SBY pada Pilpres 9 Juli 2009 merupakan keputusan yang luar biasa untuk tidak menyebutnya sebagai keputusan tanpa fatsun politik.

Sebuah keputusan yang keluar dari “pakem” kehidupan partai politik. Karena pada umumnya yang sering terjadi pada partai adalah keputusan “otoriter” ketua umum tanpa mengabaikan kostituennya. Biasanya partai yang rapuh membuat langkah blunder manakala ketua umum atau segelintir elit pada tingkat DPP yang membuat keputusan sepihak tanpa melibatkan DPD nya.

Pada Rekernas PAN di Yogjakarta itu justeru SB sepertinya telah “dilengserkan” begitu saja oleh mayoritas DPD I. Sikap politik PAN selama ini, oposan terhadap kebijakan pemerintahan SBY-JK yang dianggap memberikan porsi dominasi asing atas eksploitasi sumber daya alam, meskipun kadernya ada didalam cabinet pelangi SBY-JK yaitu Hatta Rajasa sendiri. Agak aneh memang justeru sekarang malah mengusulkannya sebagai bakal cawapres. Kekuatan apa yang mendorongnya? Sebagai kaum awam saya mencoba menjawabnya sendiri.

Kemungkinan pertama kata kuncinya adalah “pinangan” SBY. Meskipun SBY belum mendeklarasikan siapa yang bakal mendampinginya sebagai cawapres. Bahwa SBY telah “meminang” kader PAN, dengan demikian posisi PAN dipastikan merebut cawpres jika PAN mengikat diri pada koalisi Cikeas. Isue ini dipertimbangkan lebih menguntungkan dibanding dengan kecenderungan sikap politik Ketua Umum yang condong ke Koalisi Teuku Umar yang dimotori PDIP-Gerindra-Hanura dan Partai Golkar.

Ketika negosiasi substantive Partai Golkar dengan tim sembilan Partai Demokrat terganjal karena mengajukan hanya satu nama,  sementara PD menginginkan tiga nama. Lalu pembicaraan diendapkan dulu.  Padahal aktualnya Partai Golkar terdesak waktu dan situasi internal. Dalam posisi tersudut akhirnya Partai Golkar memutuskan untuk bercerai dan keputusan itu kemudian dicecar dan dicitrakan sebagai keputusan sepihak.

Apa “nasib” yang berlaku terhadap Partai Golkar membuat PKS lantas ciut sehingga harus menyampaikan langsung kepada SBY melalui amplop tertutup, retorikanya penyampaian dalam amplop tertutup itu guna menjaga etika agar SBY lah yang mengetahui pertama isi usulan PKS, bukan tim sembilan. Usulan satu nama yaitu hanya Hatta Rajasa oleh keputusan Rakernas PAN sepertinya mengulangi langkah Partai Gorkar.

Sejatinya PAN tidak mengajukan satu nama karena hal itu berarti akan mengalami kegagalan seperti Partai Golkar. Satu hal lagi yang patut diperhatikan, bahwa pihak PKS yang sudah terlebih dahulu mengirimkan amplop saktinyanya ke SBY dipastikan memasang target yang sama : cawapres. Pada sisi yang sama terdapat kalangan professional non partai sepetti Budiono, belum termasuk kalangan internal Partai Demokrat sendiri.

Lantas mengapa langkah ini tetap dilakukan?  Tentu ada “jaminan personal” yang menjanjikan bahwa cukup hanya dengan satu nama saja pihak Partai Demokrat pasti menyambut baik, karena memang sudah diniatkan oleh SBY. Jika tidak ada jaminan, berarti langkah PAN tanpa taget cawapres.

Apakah keputusan Rakernas dengan satu nama Hatta Rajasa sebenarnya hanya sekadar diusulkan begitu saja, diterima syukur ditolakpun gakpapa, yang penting adalah prosesnya dimana SB tidak berperan lagi. Wuih rasanya tidak mungkinlah…. itu idiomnya “kudeta”.


Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 221.684 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Feed yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

Mei 2009
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031