Syam Jr Weblog

Mencegah Karhutla Perlu Inovasi Teknologi Aplikatif.

Posted on: September 22, 2019

Rasanya tidak mungkin kita mengatasi masalah kebakaran hutan dengan konsep melestarikan hutan tetap menjadi hutan liar, karena mayoritas rakyat kita masih rendah tingkat kesejahteraanya sehingga akses ekonominya masih tradisional yaitu bersumber dari lahan dan hutan, masyakarat kita belum masuki sains dan teknologi modern sebagai sandaran kehidupannya.

Sementara berbagai lembaga dan badan justeru lebih perhatian kepada hewan dan komunitasnya ketimbang kepada kemanusian manusia masyarakat hutan. wilayah hutan.
Sementara berbagai lembaga dan badan justeru lebih perhatian kepada hewan dan komunitasnya ketimbang kepada kemanusian manusia masyarakat hutan. Sebagian rakyat dipedalaman yaitu masyarakat wilayah hutan sekarang sepertinya masih terpinggirkan.

Pada sisi lain berbagai proyek investasi perkebunan kelapa sawit yang positif mampu mendorong tingkat kesejahteraan justru kurang mendapat perhatian dan pembelaan sebagaimana mestinya.

Sebaliknya produk sawit bahkan mendapat tekanan internasional yang sampai kini masih memboikot seluruh derivate produk sawit, ini sangat tidak adil bagi rakyat seperti di Kalimantan pada umumnya. Anehnya sebagian lembaga local nasional justru ikutan nimbrung menekan produk sawit Indonesia.

Memang proyek investasi perkebunan Kelapa Sawit sebagiannya memasuki kawasan lahan gambut maupun lahan rawa monoton, sebenarnya masih menghadap masalah bahwa kedalam air tanah tidak boleh melebehi minus 0,80 meter dari permukaan tanah bergambut.
Drainase wilayah gambut nampaknya masih butuh inovasi teknologi.

Misalnya, manakala kedalam air tanah pada musim kemarau, menyusut ekstrem melebihi minus 0,80 meter dibawah permukaan tanah maka yang terjadi adalah oksidasi terhadap gambut, artinya selanjutnya kemungkinan menghadapii resiko perkebunan akan terbakar. Tentu tidak ada “ganti untung” dari pemerintah bahkan kemungkinannya para manager perkebunan menghadapi tuntutan pidana, duhhh nelongso tenan.

Daerah Kalimantan Selatan secara tofografis adalah dataran rendah atau sebagiannya bahkan tergolong rawa monoton. Wilayah seperti di Muara Tapus, Labuan Amas Utara, Babirik dan Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Demikian juga wilayah Daha Utara dan Daha Selatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Relatif wilayah rawa monoton ini kurang produktif, masyarakat bercocok tanam yang menghasilkan jagung dan semangka serta sayuran lainnya. Rakyat juga menanami lahan rawa monoton dengan varitas local “bani surung” yang secara umum ditanam pada musim kemarau panjang dan dipanen ketika lahan sudah berair mendanau.

Pada musim kemarau masyarakat “membersihkan” lahannya untuk bisa ditanami dan caranya antara lain dengan membakar rumput dan semak pada lahan rawa yang mengering tersebut.
Pada jaman penjajahan Hindia Belanda ada aplikasi drainase yang pilot proyeknya dikenal sebagai “Proyek Polder Alabio”.

Dulu di Alabio ada wilayah lahan yang di “block” dengan tanggul keliling dan kemudian airnya dipompa keluar untuk menghasilkan lahan yang terbebas dari genangan air rawa monoton. Sehingga kultivasi tidak harus menunggu musim kemarau untuk mendapat lahan subur di Alabio.

Dari pilot proyek ini mungkin kita bisa tarik pelajarahan bahwa sekarang mungkin kita membutuhkan inovasi teknologi aplikatif atas lahan rawa monoton ini.

Pada lahan rawa monoton ini misalnya tumbuh “Pohon Galam” yang digunakan masyarakat umumnya sebagai bahan pondasi konstruksi bangunan. Masalahnya sekarang tumbuhan hutan ini semakin berkurang wilayah tumbuhnya terdesak kepentingan lain.

Masalah lainnya bahwa pohon yang dibutuhkan berdiameter tampuk sebesar 15 cm dengan panjang sekitar enam sampai tujuh meter.

Untuk mencapai besaran dan panjang pokok pohon gelam butuhk waktu tumbuh sampai dengan limabelas tahun. Seandainya iya Cuma sendainya kita bisa lakukan dengan teknologi nano bisa membuat umr tumbah mencadi genjah sekitar 2 sampai 3 tahun tentu akan berdampak ekonomis yang laur biasa bagi rakyat kita.

Ini tantangan bagi kampus dan masyakarat akedemis untuk melakukan proyek riset guna menghasilkan teknologi aplikatif yang mampu menyelesai atau mengatasi masalah produktifitas lahan rawa monoton sekaligis meningkatkan kesejahteran petani dan menghindarkan serta mencegah kebakaran lahan.

Semoga kampus berlomba membuat proposal risetnya dan pemda berlomba membiayai proyek riset ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 215.389 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

September 2019
S S R K J S M
« Agu    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d blogger menyukai ini: