Syam Jr Weblog

Archive for the ‘politics’ Category

Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan bahwa dia akan berfikir keras tentang infrastruktur dan bekerja sebaik mungkin. Berbagai pemberitaan pers belum menyebutkan pos jabatan mana secara spesifik namun diyakini beliau akan kembali memimpin Departemen Pekerjaan Umum. Ungkapan pendek, “berfikir keras dan bekerja sebaik baiknya” yang sempat disampaikan kepada pers usai “tes kesiapan bertugas” di Puri Cikeas Indah. Baca entri selengkapnya »

“Saya diminta untuk membangun karakter yang kuat. Karakter yang dimaksud bukan sekadar kesantunan, tetapi juga kreativitas, inovasi, dan pribadi yang akrab dengan ilmu pengetahuan dan teknologi,” demikian ungkap Prof. Muhammad Nuh kepada sejumlah wartawan, setelah dia mengikuti “tes kesiapan bertugas” di Puri Cikeas. Menurut berita Kompas.com, beliau  diminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi Menteri Pendidikan Nasional  KIB II 2009-2004. Baca entri selengkapnya »

Mydas

Posted on: Juli 3, 2009

Ketika kita mencoba menjawab mengapa Mydas dalam mythology Yunani mendekat ke pusat kekuasasaan yaitu para dewa, ternyata keinginnya adalah agar dia mendapat kekuasaan untuk mengubah apa yang disentuhnya bisa berubah menjadi emas. Ketika kekuasaan itu didapatkan maka hasilnya adalah tragedy, roti dan anggur yang disentuhnya seketika berubah menjadi emas dan Mydas tewas karena kelaparan.

Dalam belantara politik, tokoh bin tokoh berupaya keras untuk merapat ke pusat kekuasaan. Pada musim pesta demokrasi seperti saat ini, espektasi membuat pilihan pilihan dimanakah gerangan pusat kekuasan itu berwujud. Berbagai cara ditempuh, berkata dan berlaku santun, halus, bahkan bisa kasar, hitam, merah biru lengkap dengan berbagai trik dan muslihat.

Kata disusun, argumen dibuat, data disanding, keputusan sudah bulat bahwa kekuasaan bisa didapat dari yang namanya presiden. Menjelang pilpres 2009 berbagai cara kampanye dilakukan yang menurut teorinya termasuk apa yang disebut sebagai bandwagon effect untuk memenangkan pemilihan dalam satu putaran. Angka angka menjadi data penting penciptaan informasi kearah mana rakyat hendak digiring.

Tanpa bermaksud menganalogikan Mydas dalam mythology Yunani dengan lembaga survey di Indonesia, tetapi sentuhannya pada angka angka dapat berubah menjadi “emas” dan menghasilkan bayaran tinggi mencapai 1,5 milyar rupiah apapun alasannya. Apakah bayarannya dalam bentuk bergepok uang merah gres dan wangi atau kebagian kekuasaan berupa jabatan yang diimpikan, kerja harus tuntas.

Semuanya menjadi sah sah saja dan nampak wajar atas nama kepentingan bagi mereka yang sedang mendekat ke pusat kekuasaan. Bahkan angka 70% estimasi kemenangan dilansir ke public sebagai nisbat karena diperoleh berdasarkan survey dengan metoda saintifik. Entahlah, apakah angka angka itu hasil sentuhan sebagaimana Mydas menyetuh anggur dan roti?

Berhembus nafas wangi dari Jombang, Jawa Timur yang mengingatkan tentang keyakinan akan takdir, qodha dan qadar. Info yang dilansir mengenai estimasi kemenangan 70% dianggap sebagai perilaku mendahului takdir serta sikap sekuler yang berarti bersalahan dengan keyakinan tradisional sebagaimana dianut ahlusunnah wal jamaah di Jawa Timur umumnya.

Bathin bertemu bathin membuka khasanah untuk melihat pedoman, berdoa memohon petunjuk agar ummat terayomi dengan tindakan bijak. Keputusanpun diambil yaitu membimbing ummat untuk memilih seorang mukhtasyar nadhiyin sebagai pemimpin periode mendatang. Tangan akan bergerak memilih siapa yang ada dihati dimana rahasia keajaiban disimpan.

Terdapat pandangan yang berbeda antara SBY dengan Budiono mengenai privatisasi. Suatu isu ekonomi yang ramai diperdebatkan oleh para pendukung masing masing capres/cawapres dikaitkan dengan apa yang disebut dengan neolib versus ekonomi kerakyatan. SBY bersikap konservatif dan hati hati, sehingga pemerintah tidak akan melakukan privatisasi dan tidak akan menjual asset Negara. Sementara Budiono bersikap progresif dengan argumentasi yang mendukung privatisasi BUMN secara selektif. Perbedaan pandangan bukan hal yang luar biasa berkaitan dengan latar belakang pertimbangan untuk mengambil keputusan kebijaksanaan dalam pemerintahan modern. Namun dalam kondisi musim kampanye Pilpres 2009 perbedaan pandangan tersebut bisa menimbulkan implikasi politis bagi masyarakat untuk menentukan pilihannya.

Sebagaimana disiarkan KOMPAS.com – Pemerintah memastikan tidak akan melakukan privatisasi dan penjualan aset pemerintah termasuk juga BUMN untuk menutup defisit APBN 2010. Pemerintah lebih memilih untuk menambah utang baik dalam maupun luar negeri untuk menutup defisit sebesar 1,3 persen PDB. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan bahwa pemerintah akan sangat hati-hati dan konservatif dalam menentukan anggaran dalam APBN 2010 nanti. Ia menambahkan, selain utang sumber pembiayaan masih akan mengandalkan dari penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan penerbitan obligasi. “Presiden menekankan, kita tidak akan melakukan privatisasi dan menjual aset negara,” tegas Paskah, kemarin……”

Pada kesempatan terpisah di Bandung, Cawapres Budiono mengungkapkan, “Ke depannya, privatisasi BUMN harus ditujukan untuk membentuk tata kelola pemerintahan yang baik, yang pada akhirnya dapat menguntungkan rakyat Indonesia,” ujar Boediono dalam diskusi perbankan syariah, Jumat (19/6) di RM Panyawangan, Bandung. Dengan demikian, hingga periode waktu tertentu, pengelolaan BUMN dengan mengombinasikan peran swasta dan pemerintah masih harus dimungkinkan. “Jika BUMN go public, atau memiliki strategic partner, segala aktivitas BUMN menjadi dapat diteropong sehingga terbangun transparansi dan tata kelola yang efektif dan efisien,” ujarnya.”….

Sementara itu dipastikan bahwa pemerintah melalui Kementerian BUMN akan melanjutkan program privatisasi terhadap 30 BUMN pada tahun 2009 yang sebagian besar merupakan pengalihan dari tahun 2008. “Tahun lalu (2008) karena kondisi pasar tidak memungkinkan, maka ada sejumlah BUMN restrukturisasinya carry over (dialihkan) ke tahun depan,” kata Deputi Menneg BUMN Bidang Privatisasi dan Restrukturisasi, M Yasin, seusai  “Excecutive Briefing: A Regional Perspective in The Economic Crisis”, di Jakarta, Selasa (30/12).

Yasin menjelaskan, seharusnya jumlah yang harus diprivatisasi pada 2009 mencapai 44 perusahaan, tetapi karena sejumlah pertimbangan dan situasi ekonomi yang belum pasti maka kemungkinan hanya 30 perusahaan. “Dari 30 perusahaan umumnya skema privatisasinya dilakukan melalui IPO (Initial Public Offering), kecuali perusahaan yang kepemilikan saham pemerintah di dalamnya hanya kecil atau minoritas,” ujarnya. Sikap SBY sebagaimana diungkapkan Paskah Suzzeta, untuk tidak melakukan privatisasi dan menjual asset Negara nampaknya lebih pada tataran ideal, suatu statemen politik dalam nuansa kampanye pilpres dalam hal mana privatisasi dikonter lawan politiknya sebagai ciri neolib. Sementara Budiono yang saat ini bukan “orang pemerintah” karena baru calon wapres, lebih pada realitas empiris dalam hal mana berkaitan dengan kebutuhan pragmatis mengatasi keadaan perekonomian Negara.

Meskipun pernyataan Budiono bersifat perspektif jika terpilih sebagai wapres, tanpa analisa sekalipun maka dapat disimpulkan bahwa yang akan berjalan adalah argumentasi Budiono. Realitas pasar yang membentuk kondisi perekonomian negara akan mengalahkan visi idealis mempunyai analogi sederhana misalnya; bagaiamana  seseorang tidak berutang jika realitasnya memang tidak punya duit sedangkan barang belum laku dijual sementara kebutuhan aktual mendesak. Jadi jika misalnya Budiono adalah “real vice president” maka kayaknya akan terlihat standar ganda dalam menyikapi permasalahan bangsa. Sikap politik SBY pada tataran ideal tidak dijalankan pada tataran operasional.

Hal inikah yang terjadi pada duet SBY-JK? Apakah hal seperti ini akan terulang?  Sekalipun tidak yakin bahwa Budiono akan lebeih “berani” didanding JK, tapi sebagai ekonom  argumentasinya akan dapat mempengaruhi keputusan akhir.

Saya hanya berharap privatisasi tidak dilakukan tergadap BUMN sector industri strategis kalau perusahaan semacam itu masih ada, siapapun presidennya.

Kadin hebat ketika menyelenggarakan acara penyampaian visi dan misi tiga calon presiden pada tayangan tiviwan minggu lalu. Hebatnya dimana? Acara berlangsung dengan blokking arena tapal kuda, capres berbicara ditengah arena kayak pemain teater sehinga gagasan yang disampaikan “murni” dari memory sang capres. Model arena tapal kuda ini tentu punya maksud untuk mengukur kemampuan memori , untuk mengganti istilah kehandalan seorang capres. Capres harus tampil tanpa teks. Kalau bicara di podium akan dapat menggunakan teleprompter untuk jaim, tampil gaya seolah olah tanpa teks.

Pak SBY tampil mempesona, sangat  terlihat berwibawa sehingga ketika akan masuk arena sudah mendapatkan standing applause, sambutan tepuk tangan lebih lama dibanding dua capres lannya. Standing applause lantas membentuk nuansa bahwa SBY “diatas angin”, sehingga kemudian terbawa pada perasaan berada pada posisi lebih tinggi dari yang lain. Lalu garis bawah pembicaraan beliau porsinya lebih kepada menjelaskan atau tepatnya membantah prasangka berkembang bahwa SBY-Budiono adalah penganut ekonomi neo liberalis. Pihak lain tidak paham apa itu neolib dan harus diberi penjelasan. Ungkapan “they don’t understand” membekas diingatan. Namun dikalangan masyarakat awam ungkapan seperti itu hanya menyisakan tanda tanya saja.

Nah. Ternyata arena tapal kuda di Shangrila Hotel – Jakarta itu “makan korban” juga.  Ketika dalam penyampaian visi misi itu SBY mengawalinya dengan mengatakan bahwa dia mempunyai prinsip “empat tidak”, Sayang, beliau hanya dapat menyebutkan “tiga tidak” saja karena “satu tidak”nya nggak muncul ketika diperlukan alias lupa. Mengapa dia lupa? Namanya saja lupa, jadi nggak usah ditanyakan mengapa. Kalaupun  ditanyakan saya yakin “They  don’t understand”.

Ketika menyampaikan visi misi ekonominya mbak Megawati tampil penuh percaya diri, mbak Mega sangat terbantu oleh presenter tiviwan yang membuka kata dengan “pujian”  bahwa beliau adalah capres paling cantik. Tagline paling cantik memang  seaslinya dari beliau. Sehingga waktu tagline diungkapkan kembali oleh presenter, membuat mbak Mega tertawa lepas, hadirin semua juga tertawa. Jadi telah ada sambung rasa antara mbak Mega dengan audiens  yang tokoh tokoh pengusaha anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia itu.

Itulah yang melepaskan “tekanan”  emosi  beliau sehingga tampil pede banget. Meski pede tetap saja kena. Ketika beliau mencoba menjawab satu pertanyaan dan meluncurlah kata kata ”..boleh yaa minta bantuan…”. Nah ungkapan seperti itu member kesan bahwa  beliau tidak menguasasi apa yang dipertanyakan peserta. Demikian pula sepanjang penyampaian visi misi, beliau beberapa kali mengulang pernyataan bahwa pertanyaan peserta “sulit”. Kalau “sulit” dilontarkan sesekali saja,  mungkin dapt dimaklumi sebagai satu gaya improvisasi ataupun cara rendah hati mengapresiasi pertanyaan, tetapi jika dilakukan berulang ulang “sulit” artinya yang di memory mbak Mega memang sulit itulah adanya. Mengurangi poin.

Tentu saja pak JK luput dari “jebakan” arena tapal kuda ini. Lihatlah, acara diselenggarakan oleh Kadin Indonesia, disana  pak JK tentu lebih familiar. Tampil dengan cepat dan lancar dalam menjawab setiap pertanyaan tanpa keraguan sedikitpun, sehingga “pertunjukan” sangat bisa dinikmati. Terutama ketika dia ditanya tentang produk dalam negeri. Mencintai produk dalam negeri penting. Harus satu kata dengan pebuatan, ucapnya.  JK mencontohkan dirinya memakai sepatu produk dalam negeri. Aksinya  mencopot sepatu menunjukan produk Cibaduyut yang dipakainya, seluruh pemirsa tentu merasa terhibur denga sikap kesederhanaan beliau. Tapi bukan itu poinnya. Pak JK tampil prima pada acara penyampaian visi misi itu karena berada dilingkungan pengusaha, beliau tampil seperti  di rumah sendiri.

Dari visi misi ketiga capres nampaknya tidak jauh berbeda, semuanya  membangun bangsa demi kesejahteraan rakyat. Sebagaimana dikemukakan mbak Mega bahwa dia mencatat pembicaraan  dua pesaing  sebelumnya. Namun mbak mega lebih menegaskan tentang  amanah konstitusi, UUD 1945 sebagai landasan membangun bangsa yang berdaulat, mandiri dan menjalankan ekonomi kerakyatan berdasarkan budaya sendiri. Kebijakan pro rakyat tanpa meminggirkan pengusaha. Apakah ini maknanya dikotomis rakyat versus pengusaha?

JK tampil dengan visi : Kemandirian Ekonomi Nusantara,  misi bersama mensejahterakan rakyat secara lebih cepat dan lebih baik, sepertinya JK ingin hadir membawa misi yang lebih nasionalis. Baik mbak Mega maupun Pak JK memandang perlu campur tangan Negara untuk mengatur ekonomi demi mencapai kesejahteraan rakyat. Sementara SBY dianggap lebih membiarkan perkembangan ekonomi dengan orietasi global pasar bebas yang diistilahkan sebagai neo liberalis.

Padahal Pak SBY merasa tidak demikian, dalam hal mana beliau menepis prasangka tersebut dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengerti,”they don’t understand”. ucapnya. Entah yang digolongkan sebagai “mereka” itu termasuk saya? Pastinya tentu para pesaing pada pilpres Juli 2009, tukang kritik dan lawan politik lainnya. Bahkan pak SBY sempat mengatakan bahwa sebagai incumbent dijadikan musuh bersama. Sempat sempatnya menempatkan diri sebagai musuh bersama, suatu upaya pencitraan membentuk opini publik bahwa pihaknya telah didzalimi. Sekarang yang seperti itu tidak model lagi, banter dalam hati orang bilang… kasian deh lu.

Kalam penutup. Namun harus ada kesimpulan apa pendapat terhadap tampilan dari tiga capres yang telah menyampaikan visi misi pada acara Presiden Pilihanku oleh Kadin Indonesia dan tiviwan minggu lalu. Menurut saya. Peringkat pertama pak JK, peringkat kedua mabak Mega disusul pak SBY peringkat ketiga.

Catatan penanda: Menggunakan bahasa asing dalam konteks pergulatan politik nasional dikhawatirkan berakibat melekatkan karakter asing pada sosok seorang pemimpin dimata rakyatnya. Kalau keterusan, lama lama iso dadi londo ireng… :)( Syam Jr )

Prof. Boediono dalam pidato pengukuhannya sebagai cawapres dari Partai Demokrat mendampingi capres Soesilo Bambang Yudhoyono, menyatakan otokritik yang mengingatkan dirinya sendiri. Dia menyatakan, Indonesia membutuhkan pemimpinan yang tidak dikotori oleh suap, tidak mau memperdagangkan kekuasaan. “Tidak mencampuradukkan kepentingan negara dengan kepentingan bisnis keluarga,” ujar Boediono di depan ribuan orang yang hadir sebagaimana siaran langsung televisi dari Gedung Sabuga, Bandung Jum’at  malam.

Kenapa otokritik? Jika bukan otokritik maka pernyataan itu dapat ditanggap sebagai serangan kepada pihak pesaing lainnya baik JK-WIN maupun Mega-Prabowo dalam rangka pilpres Juli 2009. Sementara sebelumnya SBY sendiri telah memperingatkan agar tidak takabur dan menjelekkan pihak lain. Pernyataan Boediono tidak menggambarkan esensi jargon politik “SBY-Berbudi”  yang dipublikasikan pada saat yang sama.

Mungkin saja pernyataan itu memperingatkan jajaran “tim sukses” sendiri untuk tidak mencampur aduk antara kepentingan negara dengan kepentingan bisnis keluarga besar Partai Demokrat dan koalisinya, mengingat posisi SBY yang incumbent. Ungkapannya “Indonesia membutuhkan pemimpinan yang tidak dikotori oleh suap, tidak mau memperdagangkan kekuasaan”  mungkin saja sebagai penyataan “bersayap” Budiono,  karena sebelumnya sejumlah partai koalisi berupaya maikan posisi tawar untuk mendapatkan posisi cawapres bahkan hingga the last minutes.

Budiono yang berbicara dengan gaya professor didepan mahasiswanya, nampak agak terpengaruh oleh “glamour” acara deklarasi capres Partai Demokrat dan koalisinya. Dia nampaknya tampil over confident seolah olah sudah menjadi Wapres sehingga lepas konteks acara deklarasi. Budiono dalam sambutannya itu dua kali “terpleset” menyebut Presiden SBY dan lupa memposisikan SBY secagai capres untuk pilpres Juli 2009.

Partai Demokrat pada final perhitungan suara KPU mendapatkan 148 kursi DPR. Kompas.com memberitakan, Partai Demokrat sebagai “Raja” baru Parlemen dengan perolehan sebanyak 21.704.805 suara atai 20,85% dari total suara sah 104.099.785. Kemungkinan keuntungan khusus itu diperoleh dari BPP dari dapil daerah daerah dengan satuan bilangan pembagi pemilih (BPP) yang rendah karena jumlah penduduk sedikit namun mempunyai wilayah luas.

Partai Golkar memperoleh 15.037.757 suara (14,45 persen)  mendapatkan 108 kursi DPR. Selisih 6.665.380 suara dengan Partai Demokrat mendapatkan 40 kursi DPR lebih banyak dari Partai Golkar. Sehingga perolehan kursi DPR untk Partai Demokrat mencapai 26,43% disusul Partai Golkar 19,29%.

( Notes : Terdapat kesalahan memasukan data sehinga posting ini harus saya revisi dan tabel saya hapus untuk tidak meneruskan kesalahan – Syam Jr )


Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 214.080 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

Mei 2019
S S R K J S M
« Mar    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031