Paytren's Syam Jr

Posts Tagged ‘Pemilu 2019

Sebagai pejabat public yang dipilih melalui pemilihan umum seperti Gubernur atau Walikota maupun Bupati terpilih melalui Pilkada wajarlah jika kemudian menyatakan secara terbuka dengan berkata “saya mendukung Presiden RI”. Pernyataan dukungan dalam konteks Presiden sebagai institusi pada sistem dan tatanan kenegaraan Republik Indonesia.

Tetapi sangat tidak etis ketika menyatakan diruang public dengan berkata “saya mendukung Prabowo”. Pernyataan seperti ini mempunyai mass appeal terkait beliau adalah figure yang maju sebagai Capres Pemilu 2019.

Pernyataan diruang publik seorang Gubernur atau pejabat public lainnya yang seperti ini sangat partisan. Sebab bagaimanapun ketika figure sudah terpilih maka secara otomatis menjadi pejabat public bagi seluruh lapisan masyarakat bangsanya.

“My loyality to the party end when loyality to the state began.” Kalau diterjemahkan kira-kira seperti ini, “Loyalitas saya berakhir kepada partai, seketika pengabdian saya pada negara dimulai”. John F. Kennedy Presiden ke-35 Amerika Serikat pada tahun 1961. Pernyataan inteletual yang cerdas dengan kapabelitas penuh sebagai pemimpin bangsa

Demikian pula delapan dari Sembilan Gubernur Kepala Daerah Provinsi, setelah dilantik lantas dengan fasih mengatakan “saya mendukung Jokowi”. Pernyataan seperti ini bernilai kampanye politik, mengandung bobot mass appeal terkait beliau adalah figure Capres Pemilu 2019.

Pernyataan diruang publik seorang Gubernur atau pejabat public lainnya yang seperti ini sangat partisan. Pernyataan ini disamping tidak etis sekaligus tidak menhayati makna jabatan public figure pada kehidupan demokratis dalam tatanan kenegaraan Republik Indonesia.

Melaui Pilkada atau melalui Pemilu 17 April 2019, kita memang membutuhkan pemimpin dalam kehidupan bernegara. Tetapi kita juga sangat pembutuhan intelektual yang cerdas untuk membawa kehidupan berkeadilan bagi seluruh rakyat.
Kita sangatlah berkeberatan ketika Presiden Republik Indonesia dilecehkan menjadi sakadar petugas.

Pada Pemilu 17 April 2019 kita membutuhkan Pemimpin intelektual yang cerdas dengan kapabelitas penuh sebagai pemimpin bangsa dan mumpuni untuk membimbing mengantarkan bangsa ini ke puncak budayanya.

Ketika Harimau marah marah dan mengumpat si Pelanduk, “tidak ada hewan yang lebih dungu dari kamu”, kata sang raja rimba. Pelanduk hanya tersenyum dan berkata “baik tuan raja rimba hamba pegang kata kata tuan, pelanduk adalah hewan paling dungu. Akan kukabarkan bahwa semua hewan termasuk tuan harimau si raja rimba adalah hewan yang dungu, kecuali saya.

Sang raja sempat agak kaget mendengar jawaban Pelanduk dan coba menganalisa ucapannya sendiri. Tetapi Pelanduk dengan cepat menghilang dibalik semak belukar. Tak perlu waktu lama, ia menuliskan pada wall FB – “Semua hewan termasuk tuan harimau si raja rimba adalah hewan yang dungu, kecuali saya”. Pelanduk alias si Kancil berceloteh ria.

Karuan saja mendapat respon dari banyak “fesbookers” yang umumnya menghujat, mamaki bahkan ada yang menghina. Last but not least pelanduk jadi ngetop markotop. Meskipun mungkin masuk kategore antagonis. Masa sih, nulis di wall FB kayak gitu nggak sopan bingits. Tapi masih untung Pelanduk tidak tuliskan – “Semua hewan termasuk Harimau di raja rimba adalah hewan yang korup, kecuali saya.”

Dari sekian banyak komentar dan tanggapan, pastinya tidak seekorpun yang coba bertanya. Bahkan Burung Hantu Dumbledore…..sang “profesor” sekalipun tidak berani bertanya….mengapa kecuali pelanduk. Ketika saya tanya mengapa saudara jadi pengecualian. Pelanduk hanya mempersilahkan bertanya langsung kepada Harimau sang raja rimba.

Singkat cerita, musim pemilu segera tiba untuk memilih raja baru menggantikan Sang Rahimau. Berbagai statemen yang bernada kampanye menyeruak memecah keheningan rimba. Media mainstream, medol dan medsos ramai membicarakan si pelanduk. Semakin dihujat semakin populerlah dia.

Para pendukung pelanduk menyebutnya sebagai ikon perubahan, tokoh kontroversial yang berani berbeda, tokoh yang kritis dan tak lupa pula di personifikasi dengan persepsi sebagai tokoh yang cerdas. Namanya juga kampanye, begitu kurang lebih ungkapan tokoh intelijen dari dunia hewan.
Pemilu sudah usai, hasilnya Pelanduk menang, terpilih menjadi Sang Raja Rimba yang baru menggantikan Harimau.

“Kok bisa ya” publik bertanya tanya, bagaimana mingkin Harimau tokoh kuat, petahana yang berprestasi bisa dikalahkan oleh Pelanduk yang dikenal akal akalan. Seabrek prestasi Harimau sirna seperti bayangan ditelah cahaya. Hilang dari memori rakyat yang dulu memujanya.

Tapi begitulah reaitas kontradiktif dengan keinginan. Satu hal yang menjadi catatan, apakah gerangan kebenaran ucapan sang Harima terhadap pelanduk. Katak Hijau memberanikan diri bertanya, apa yang pernah dikatakan mantan raja kepada Pelanduk. Sang Harimau menyatakan bahwa ia menyesal pernah memaki si Pelanduk dengan kasar.
Saya menyesal, sebagai raja mestinya saya adalah bagian dari seluruh bangsa hewan. Mestinya tidak pernah memaki siapapun karena bangsa hewan berbeda dengan bangsa manusia.

Syam Jr.
4 Mei 2015


Pengantar

Blog ini dibuat pada 15 Maret 2008 untuk menuliskan fikiran dan pandangan guna memahami orang lain melalui feed back atau tanggapan atas pemikiran yang tertulis, terutama pemikiran dari generasi muda yang sedang memainkan perannya diatas lantai kehidupan berbangsa di republik ini. About Me

Since March 15, 2008.

  • 212.121 hits

Pagerank Checker

Page Rank Check
Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Guest IP

IP

Visitors Map

Blog Indonesia

Blogger Indonesia

Current Moon

CURRENT MOON

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip

Syam Jr

September 2018
S S R K J S M
« Agu    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930